Senin, 26 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
18totologinlive.space18totologinlive.space
18totologinlive.space - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Meja Makan Pensiunan, Mitos Soal Anak Ini Masih...

Di Meja Makan Pensiunan, Mitos Soal Anak Ini Masih Sering Diulang

Banyak pensiunan masih percaya mitos pengasuhan zaman dulu. Padahal sebagian keliru dan bisa bikin hubungan dengan anak jadi renggang.

Di Meja Makan Pensiunan, Mitos Soal Anak Ini Masih Sering Diulang

Gue sering banget duduk di pos ronda komplek, ngobrol sama pak Har, pensiunan guru yang sekarang hobinya ngurus cucu. Suatu sore dia ngeluh, "Anak gue sekarang nggak mau dengerin cara gue ngasuh dulu. Katanya kolot." Gue cuma senyum. Soalnya gue pernah ngalamin hal yang sama waktu ngurus ponakan.

Nah, dari obrolan-obrolan kayak gitu, gue sadar ada beberapa mitos soal ngasuh anak dan hubungan keluarga yang masih dipegang erat sama generasi kita. Padahal, kalau ditelusuri, banyak yang ternyata nggak sepenuhnya benar. Yuk, kita bongkar satu-satu.

Baca juga: Sibuk Urus Usaha, Masih Bisa Kok Dekat sama Anak? Ini Jawabannya

Mitos 1: Anak Harus Selalu Menurut, Kalau Nggak Berarti Durhaka

Ini mitos paling lengket di kepala banyak orang tua zaman dulu. Termasuk gue dulu. Pokoknya kalau anak bantah, langsung cap "durhaka". Padahal, anak yang berani ngomong justru tanda dia percaya sama kita. Dia merasa aman buat mengutarakan pendapat.

Gue ingat waktu anak gue milih jurusan kuliah yang nggak gue setujui. Gue marah besar. Tiga bulan kami nggak ngobrol. Setelah gue pikir ulang, gue sadar: yang gue pertahankan bukan kebaikan anak, tapi ego gue sendiri. Sejak itu gue belajar dengerin dulu, baru ngasih saran.

"Anak yang nurut buta belum tentu bahagia. Anak yang berani berpendapat belum tentu durhaka."

Kalau kamu masih pegang mitos ini, coba deh tanya ke diri sendiri: apa aku mau anakku bahagia, atau cuma mau dia patuh?

Mitos 2: Cucu Itu Tanggung Jawab Kakek Nenek

Banyak pensiunan yang tiba-tiba jadi "orang tua kedua" buat cucu. Ada yang ikhlas, ada yang terpaksa. Mitosnya, ngurus cucu itu kewajiban kakek nenek. Padahal nggak gitu, lho.

Gue punya teman, sebut saja Bu Rina. Dia pensiunan perawat. Setiap hari ngurus dua cucu dari pagi sampai malam, sementara anaknya kerja. Bu Rina nggak pernah ngeluh, tapi kelihatan capek dan kadang kesal sendiri. Suatu hari dia bilang, "Aku pengen istirahat, tapi takut dibilang nggak sayang cucu."

Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.

Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.

Coba temukan keseruan yang tidak perlu dicari jauh-jauh!

Batas yang Sehat Itu Penting

Menolong anak dan cucu itu baik. Tapi kalau semua beban diambil alih, yang ada kita kelelahan dan hubungan jadi tegang. Coba diskusikan pembagian tugas. Misalnya, kamu bantu antar-jemput sekolah, tapi urusan mandi dan makan malam tetap tanggung jawab orang tuanya.

  • Bantu sesuai kemampuan, bukan sesuai tuntutan.
  • Boleh bilang "nggak bisa" tanpa merasa bersalah.
  • Ingat, kamu juga punya hak untuk istirahat dan menikmati masa pensiun.

Mitos 3: Memanjakan Anak Bikin Dia Manja

Ini sering banget diucapkan. Katanya, kalau anak sering dipeluk, dipuji, atau dibelikan mainan, dia bakal jadi manja. Padahal penelitian justru nunjukin sebaliknya. Anak yang cukup kasih sayang malah lebih mandiri dan percaya diri.

Gue dulu pelit banget muji anak. Takut dia besar kepala. Ternyata anak gue jadi pendiam dan susah cerita. Setelah gue ubah, sering bilang "papa bangga sama kamu" atau "kerja bagus", dia jadi lebih terbuka. Hubungan kami jauh lebih hangat.

Yang bikin manja itu bukan kasih sayang, tapi nggak ada aturan dan batasan. Kasih sayang plus disiplin yang jelas, itu resep yang sehat.

Mitos 4: Anak yang Jauh Itu Berarti Nggak Sayang

Banyak pensiunan yang sedih karena anaknya jarang pulang. Katanya, "Anak gue nggak sayang lagi." Padahal, zaman sekarang beda. Anak kerja di kota lain, sibuk, dan komunikasi lewat WhatsApp atau video call.

Gue pernah dengar cerita dari seorang pensiunan di Bandung. Anaknya di Surabaya, cuma pulang setahun sekali. Tapi tiap malam video call, kadang cuma buat nanya "Bapak udah makan belum?" Itu bentuk sayang yang beda, bukan berarti hilang.

Yang penting, kita juga jangan pasif. Jangan cuma nunggu ditelepon. Kadang kita yang harus mulai ngirim pesan, kirim foto, atau sekadar bilang "kangen".

  • Jangan ukur sayang dari frekuensi pulang.
  • Manfaatkan teknologi buat tetap dekat.
  • Komunikasi dua arah, bukan satu arah.

Mitos 5: Pensiunan Nggak Perlu Belajar Pola Asuh Baru

Ini yang paling sering gue dengar. "Ah, gue udah pengalaman ngasuh anak, nggak perlu belajar lagi." Padahal, zaman berubah. Dulu nggak ada gadget, sekarang anak-anak hidup dengan layar. Dulu hukuman fisik dianggap wajar, sekarang tahu itu berdampak buruk.

Belajar nggak harus formal. Bisa dari baca artikel, nonton video, atau ngobrol sama anak dan cucu. Yang penting, kita mau buka pikiran. Bukan berarti semua cara lama salah, tapi ada baiknya kita saring mana yang masih relevan.

Gue sendiri belajar banyak dari cucu gue yang masih SMP. Dia yang ngajarin gue cara pakai aplikasi video call, dan gue yang ngajarin dia cara bikin rendang. Saling belajar, saling menghargai. Itu yang bikin hubungan keluarga tetap hidup.

Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.

Jadi, Mulai dari Mana?

Nggak perlu langsung berubah total. Mulai dari hal kecil aja. Dengerin dulu sebelum nyuruh. Tanya kabar anak tanpa langsung ngasih ceramah. Kalau capek ngurus cucu, bilang baik-baik. Kalau kangen, telepon duluan.

Yang paling penting, jangan biarkan mitos-mitos lama bikin kita jauh dari orang yang kita sayang. Kita udah pensiun, waktunya lebih longgar. Justru ini kesempatan emas buat memperbaiki dan menikmati hubungan keluarga tanpa tekanan pekerjaan.

Jadi, mitos mana yang masih kamu pegang sampai sekarang? Mungkin sudah saatnya kita tinjau ulang, demi hubungan yang lebih hangat dengan anak dan cucu.

Tags: mitos pengasuhan pensiunan hubungan keluarga kakek nenek parenting