Senin, 26 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
18totologinlive.space18totologinlive.space
18totologinlive.space - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Kampung, Mitos Pengasuhan Ini Masih Dipercaya B...

Di Kampung, Mitos Pengasuhan Ini Masih Dipercaya Banyak Orang

Banyak mitos pengasuhan anak yang masih dipercaya di kampung, padahal justru bisa merusak hubungan keluarga. Ini faktanya.

Di Kampung, Mitos Pengasuhan Ini Masih Dipercaya Banyak Orang

Gue tumbuh di sebuah kecamatan kecil di Jawa Tengah. Di sana, informasi soal ngasuh anak itu datangnya dari mulut ke mulut. Dari simbah, dari tetangga, dari ibu-ibu arisan. Nggak ada yang salah dengan itu — sampai akhirnya gue sadar, banyak nasihat yang beredar ternyata cuma mitos yang diulang-ulang sampai dianggap kebenaran.

Yang bikin repot, mitos-mitos ini sering dipakai buat menghakimi orang tua lain. Kamu nggak ngikutin, berarti kamu nggak sayang anak. Padahal belum tentu.

Nah, ini beberapa mitos yang paling sering gue dengar di kampung, dan kenapa sebaiknya kita mulai tinggalkan.

Baca juga: Aku Baru Sadar Cara Ibuku Mengasuhku dari Balik Tumpukan Cucian Kos

"Anak Harus Takut Dulu, Baru Nurut"

Ini mitos paling lengket. Banyak yang percaya kalau anak nggak takut sama orang tua, dia bakal jadi anak bandel. Ujung-ujungnya, orang tua sengaja bikin jarak, sengaja galak, sengaja nggak pernah dipeluk.

Gue pernah dengar langsung seorang bapak bilang, "Kalau anak dekat sama bapaknya, nanti nggak bisa diatur." Duh.

Padahal riset soal pengasuhan sudah lama bilang sebaliknya. Anak yang merasa aman dan dekat dengan orang tuanya justru lebih mudah diajak kerja sama. Bukan karena takut, tapi karena percaya. Bedanya besar, lho. Anak yang nurut karena takut akan berhenti nurut begitu orang tuanya nggak ada. Anak yang nurut karena percaya akan bawa nilai itu ke mana pun dia pergi.

Nurut karena takut itu kepatuhan sementara. Nurut karena percaya itu karakter.

Di kampung, mitos ini sering dibungkus alasan "biar nggak manja". Padahal yang terjadi justru sebaliknya — anak jadi cari perhatian ke tempat lain, entah ke teman, entah ke gadget, karena rumah terasa dingin.

"Nakal Itu Turunan, Nggak Bisa Diubah"

Kalau ada anak yang suka membantah atau susah diatur, sering banget ada yang bilang, "Ya sudah, itu turunan bapaknya." Seolah-olah perilaku anak itu takdir yang nggak bisa disentuh.

Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.

Ini keliru, dan cukup berbahaya. Karena kalau orang tua percaya anaknya "memang begitu dari sononya", mereka berhenti berusaha. Berhenti mencari cara. Berhenti memahami.

Yang benar, perilaku anak itu sangat dipengaruhi lingkungan — terutama pola asuh di rumah. Anak yang sering membantah biasanya sedang mencari cara menyampaikan sesuatu yang belum bisa dia ucapkan. Bisa jadi dia merasa nggak didengar, bisa jadi dia sedang meniru cara orang dewasa di sekitarnya berdebat.

Gue ingat tetangga gue dulu. Anaknya terkenal "nakal" di kampung. Suka lari-lari, suka bikin rusuh. Semua orang bilang itu turunan. Tapi setelah ibunya mulai meluangkan waktu ngobrol berdua tiap malam, pelan-pelan berubah. Bukan instan, tapi berubah. Ternyata anaknya cuma butuh didengar.

"Anak Perempuan Harus Bisa Masak, Anak Laki-laki Nggak Perlu"

Ini mitos yang masih kuat banget di desa. Anak perempuan diajari masak, nyuci, bersih-bersih. Anak laki-laki? Dibebaskan, karena "nanti juga ada yang ngurusin".

Selain nggak adil, pola ini juga bikin hubungan keluarga jadi timpang. Anak laki-laki tumbuh merasa nggak perlu bertanggung jawab atas rumah tangganya sendiri. Anak perempuan tumbuh merasa tugas rumah adalah kodratnya, bukan tanggung jawab bersama.

Padahal keterampilan hidup itu buat semua orang. Masak, mencuci, merapikan rumah — itu bukan soal gender, itu soal bisa hidup mandiri. Kalau kamu punya anak laki-laki, ajari dia masak. Bukan buat jadi koki, tapi biar dia nggak kelaparan kalau suatu hari harus hidup sendiri.

Dan buat anak perempuan, jangan cuma ajari urusan dapur. Ajari juga soal uang, soal mengambil keputusan, soal berani bilang tidak. Itu bekal yang jauh lebih penting.

Lalu, Gimana Cara Mulai Meninggalkan Mitos-Mitos Ini?

Nggak perlu revolusi besar-besaran. Mulai dari hal kecil aja: Kalau kamu suka kejutan, di sinilah tempatnya bersembunyi!

Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.

Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.

  • Berhenti menghakimi orang tua lain. Setiap keluarga punya situasinya sendiri. Yang kelihatan di permukaan belum tentu cerita lengkapnya.
  • Banyak baca dan tanya. Sekarang informasi soal pengasuhan gampang diakses, bahkan lewat HP. Nggak ada salahnya cek ulang nasihat yang kita terima dari mulut ke mulut.
  • Dengarkan anak. Ini yang paling sering dilupakan. Anak punya perasaan dan pikiran. Kadang mereka cuma butuh kita diam sebentar dan mendengar.
  • Jangan takut berbeda. Kalau kamu memilih pola asuh yang beda dari kebanyakan orang di kampungmu, nggak apa-apa. Selama itu baik buat anakmu, jalan saja.

Nggak Ada Orang Tua yang Sempurna

Gue sendiri bukan orang tua yang sempurna. Kadang masih ikut marah tanpa alasan jelas. Kadang masih ikut ngomel karena capek kerja. Tapi setidaknya gue berusaha nggak mewarisi mitos-mitos yang bikin hubungan keluarga jadi renggang.

Karena pada akhirnya, yang diingat anak bukan apakah kita selalu benar. Yang diingat anak adalah apakah kita ada, apakah kita dengar, dan apakah kita sayang tanpa syarat.

Mitos boleh beredar di kampung. Tapi keputusan soal bagaimana kita ngasuh anak, itu tetap milik kita. Jangan sampai kita jadi orang tua yang cuma mengulang apa yang didengar, tanpa pernah bertanya apakah itu benar.

Kalau kamu pernah dengar mitos pengasuhan lain yang bikin geleng-geleng kepala, boleh banget cerita. Kadang dengan saling berbagi cerita, kita jadi lebih sadar mana yang perlu dipertahankan dan mana yang sudah waktunya ditinggalkan.

Tags: mitos pengasuhan pola asuh anak hubungan keluarga parenting desa keluarga Indonesia